..:: Headlines ::..
Your Parent : Fajar Ponidi Sulaksono
Berita Nasional
- Pesan SBY ke Keluarga Korban Sukhoi: Tuhan Punya Rencana
- JK: 2 Hal Penting untuk Pertimbangkan Beli Sukhoi
- Takmir Masjid Al-Azhar Kecewa dengan Komentar Wapres Soal Pengaturan Azan
- Raksasa Ritel Inggris Boikot Produk Israel
- Bayi Terlahir dengan Enam Kaki
- Asia Kerap Langgar Sanksi Iran, AS Kesal
- FIFA: Deadline PSSI Hingga 15 Juni
- Pelatih Qatar: Usut Laga Timnas Indonesia vs Bahrain
- Aksi Gigit Pesilat Indonesia
- Kronologi Kabar Kematian Whitney di Twitter
- Ade Namnung Meninggal Dunia
- Tina Talisa, Dari 'Apa Kabar Indonesia' ke 'Fokus Pagi'
- Asteroid Seukuran Bis Nyaris Tabrak Bumi
- Intip Bandrol iPhone 4S di Indonesia
- Untuk Tablet, Intel Hadirkan Atom Z670
- Dibanderol Rp18,3 Miliar, Aston Martin One-77 Habis Terjual
- Rp826 Juta untuk Tebus Nissan Cima
- Sepeda Motor Ferrari Dilelang Rp1,5 Miliar
- Ayo Makan Tepat Waktu Biar Nggak Gampang Gendut!
- Awas...Terapi Gigit Ikan Juga Berisiko bagi Kesehatan, Lho
- Bukan Mitos...Wanita Lajang Sebaiknya Memang Kurangi Konsumsi Pisang Ambon
Kata Sambutan | Register | Lupa Password
Industri Porno Siap Menolak Flash
Tuesday; 29 June 2010 [Lee Kim Phing] - Ekonomi dan Keuangan Reads : 328

Jakarta - Industri film khusus dewasa di Amerika Serikat banyak membantu dalam menentukan hasil akhir 'perang format' selama ini. Ketika VHS mengalahkan Beta di AS, adalah industri porno yang mendorongnya.
Kemudian, saat Blu-ray akhirnya menggusur HD-DVD peran industri ini juga tak bisa diabaikan. Lebih dari tiga bulan sebelum HD-DVD dihentikan, semua studio porno di AS sudah meninggalkannya dan beralih ke Blu-ray.
Nah, perang format yang belakangan cukup hangat adalah antara Flash dengan HTML 5. Bagaimana posisi industri 'terlarang' ini soal Flash vs HTML 5?
ConceivablyTech, yang dikutip detikINET, Selasa (29/6/2010), pun mewawancarai Ali Joone, pendiri dan direktur dari Digital Playground, salah satu produsen porno terbesar di AS.
Menurut Joone, HTML 5 akan menjadi format yang disukai untuk masa depan. Hal ini terutama karena kebanyakan konten akan dihadirkan lewat perangkat mobile.
"Browser mobile menjalankan HTML 5 dengan baik. Flash membuat segalanya jadi lambat dan menguras baterai. Dengan HTML 5, tak ada alasan bagi kami untuk menampilkan konten dalam format Flash," tuturnya.
Hingga saat ini Joone mengatakan DP masih menawarkan konten dalam bentuk Flash. Ini karena browser tertentu masih belum mendukung HTML 5.
"Kami menunggu browser untuk menyusul. Segera setelah mereka siap, kami akan memindahkan semuanya ke HTML 5," pungkasnya.
( wsh / wsh )
Wicak Hidayat - detikinet
10 Previous News in Ekonomi dan Keuangan
- Seekor Kakatua Mengalahkan Pelaku Bursa Saham
- Sulbar Bangun Pabrik Pengelolaan Kakao di Mamuju
- Utang PLN ke Pertamina Capai Rp 20,448 Triliun
- TDL Naik, Pemerintah Janji Tak Ada Lagi Byar Pet
10 Next News in Ekonomi dan Keuangan
- 6 Tips Tahun Baru Tanpa Utang Baru
- IHSG Sideways, Buru ASII, BBCA dan BBRI
- Is it the end of Euro?
- Di Bidang Ekonomi, Indonesia Kian "Terjajah"
- Bisnis Korporat Industri Finansial Market Data Bisnis yang Lahirkan Orang Kaya Baru RI
- Siapa Lebih Untung, Mandiri atau BCA?
- China Tuding AS Penyebab Perang Mata Uang
- China Naikkan Tingkat Suku Bunga 25 Bsp
- China Jadikan Solo "Kota Maskot Dagang"
- Harga Apartemen Orchid Melonjak (Palembang)
Comment for Industri Porno Siap Menolak Flash
Untuk Mengisi Komentar Silahkan Login terlebih dahulu.


