..:: Headlines ::..
Your Parent : Fajar Ponidi Sulaksono
Berita Nasional
- Pesan SBY ke Keluarga Korban Sukhoi: Tuhan Punya Rencana
- JK: 2 Hal Penting untuk Pertimbangkan Beli Sukhoi
- Takmir Masjid Al-Azhar Kecewa dengan Komentar Wapres Soal Pengaturan Azan
- Raksasa Ritel Inggris Boikot Produk Israel
- Bayi Terlahir dengan Enam Kaki
- Asia Kerap Langgar Sanksi Iran, AS Kesal
- FIFA: Deadline PSSI Hingga 15 Juni
- Pelatih Qatar: Usut Laga Timnas Indonesia vs Bahrain
- Aksi Gigit Pesilat Indonesia
- Kronologi Kabar Kematian Whitney di Twitter
- Ade Namnung Meninggal Dunia
- Tina Talisa, Dari 'Apa Kabar Indonesia' ke 'Fokus Pagi'
- Asteroid Seukuran Bis Nyaris Tabrak Bumi
- Intip Bandrol iPhone 4S di Indonesia
- Untuk Tablet, Intel Hadirkan Atom Z670
- Dibanderol Rp18,3 Miliar, Aston Martin One-77 Habis Terjual
- Rp826 Juta untuk Tebus Nissan Cima
- Sepeda Motor Ferrari Dilelang Rp1,5 Miliar
- Ayo Makan Tepat Waktu Biar Nggak Gampang Gendut!
- Awas...Terapi Gigit Ikan Juga Berisiko bagi Kesehatan, Lho
- Bukan Mitos...Wanita Lajang Sebaiknya Memang Kurangi Konsumsi Pisang Ambon
Kata Sambutan | Register | Lupa Password
PARANOID DENGAN MASJID
Wednesday; 20 April 2011 [Hanin Faiha Aqilah Fatien] - Motivasi Reads : 131

“kalau kita rajin ke masjid, insyAlloh hidup akan di cukupi oleh Alloh, hidup akan tenang dan damai. Marilah kita selalu meramaikan masjid, apa lagi bagi kaum lelaki.”
Aku dengan serius mendengar kothbah jumat itu. Logika ku terus mencerna kata-kata ustadz tadi, lalu ku simpan rapi di memori otak ku. Itulah cara ku menyimpan sebuah informasi, memikirkan nya. Kemudian menyimpan nya, kalau-kalau suatu saat dibutuhkan.
Mendengarkan kothbah jumat sudah menjadi kebiasaan ku dari tiga minggu yang lalu. Semua materi kothbah masih ku ingat, walaupun aku hanya mendengarkan dari rumah. Maklum, masjid di kampung ku berada di depan rumah. Jadi, dari rumah ku suara speaker masjid terdengar jelas. Entah kenapa Aku mulai tertarik dengan topik –topik ustadz di tiap kothbah nya.
Mungkin terasa aneh kenapa aku hanya mendengar dari rumah dan tidak ikut sholat di masjid. Padahal, aku juga seorang muslim. Sebagai muslim pun, sudah 20 tahun aku tidak pernah menginjak masjid. Belum bisa melupakan peristiwa meninggal nya ayah adalah penyebab nya. sejak saat itu, Aku mengalami paranoid terhadap masjid.
Berhari-hari aku memikirkan setiap kothbah yang disampaikan ustadz, ada sedikit keinginan untuk menjawab rasa penasaran ku. Apa benar, kalau kita ke masjid, hidup akan tercukupi? Hati akan damai? Tenang? Pertanyaan-pertanyaan itu yang kini berputar-putar di benak ku. Ingin rasanya mengubah hidup dan menjalani nya dengan tenang dan tanpa rasa takut. Motivasi itu yang kini memacu adrenalin ku untuk mencoba. “Tapi, ini adalah misi rahasia. Jangan sampai ada orang yang tahu.” Pikir ku. Aku tidak berani ambil risiko dipermalukan warga, karena keanehan ku ini selalu menjadi bahan gunjingan orang-orang sekampung.
Rencana ku susun, aku menunggu masjid sepi. Biasa nya masjid mulai sepi sehabis isya, tapi, sekarang masih ada beberapa orang yang mengaji. Akhir nya Aku urungkan niat ku untuk pergi ke masjid sekarang, K alau aku beraksi di jam segini, orang-orang akan bisa melihat ku. Ku mantapkan untuk mengundur hingga tengah malam.
Suasana sudah sepi, rumah-rumah tetangga sudah ditutup. Menanti sampai tengah malam membuat aku tersiksa, jantung ku berdetak tidak karuan, keringat dingin membanjiri kening ku. Tidak ku sadari tubuh ku bergetar hebat, seperti menggigil kedinginan. Tetapi, aku tak peduli. “Aku harus ke masjid sekarang!” Teriak batin ku.
Sarung ku ambil, ku pakai untuk menutup wajah ku dengan mengikatkan ujung-ujung nya di belakang kepala, sehingga menyerupai bentuk ninja. Ku ganti batere senter dengan yang baru, agar nyala bohlam nya semakin terang. Perlahan aku keluar dari pintu belakang rumah dengan mengendap-endap, takut seisi rumah terbangun. Aku menyusuri lorong gelap antara rumah ku dengan sumur tua di belakang pelataran. Nafas ku memburu. Keringat makin deras karena sarung ini membuat ku lebih panas. Aku masih mengendap-endap, ada ketakutan yang menjalar di seluruh tubuh ku. Langkah kaki kupelankan , agar tidak ada yang mendengar.
Akhirnya aku sampai di tempat wudlu masjid. Aku berjalan semakin pelan, tanpa suara. Kaki ku bergetar hebat, nafasku semakin cepat. Aku mulai lemas. Ketakutan ini benar-benar menguasai jasad ku. Aku terdiam di tembok, duduk di sebuah tangga. Mengambil nafas dan mencoba menenangkan pikiran.
Ku dengar suara-suara dari kejauhan, Jelas dan seperti mendekat.
“iya pak, aku melihat nya sendiri!” kata salah seorang
“dia memakai sarung untuk menyembunyikan wajah nya!” suara lain menambahi
“kami yakin pak! Benar-benar yakin!”
“kalau begitu, bejo kamu pukul kentongan di rumah saya!”
“siap, pak lurah!”
“dan kamu joko, bangunkan semua warga”
“laksanakan pak !”
Aku semakin takut. Ku matikan senter. Sekitar menjadi gelap, pandangan ku tak begitu jelas. Aku terus mengendap meraba tembok sebagai arah. Suara warga semakin terdengar bergemuruh. Tiba-tiba lengan ku ditarik oleh tangan yang tak ku kenal. aku di seret ke tanah lapang. Aku melihat banyak orang yang mengelilingi ku dengan kayu atau tongkat pemukul. Ada juga ibu-ibu yang membawa ulekan yang biasanya buat mengulek sambal.
Baru ku sadari aku berada di tanah lapang depan masjid. Aku masih tersungkur. Ku coba berdiri walaupun kaki ku masih bergetar hebat. Sebelum sempat berdiri, warga sudah menghajar ku. Dengan berebut mereka mengincar tiap inchi tubuh ku untuk di pukul. Semua warga mengayunkan senjata yang ada di tangan nya ke arah ku. Ahhh,,,teriak ku tak dapat terdengar, karena ramai nya suara warga yang saling berteriak keras, “maliiiiinggg! “maliiiiinggg! “maliiiiinggg! Aku terus dikeroyok, di pukul, di lempar batu, di tonjok, di tendang,,,,,namun, aku tak sanggup melawan.
Darah bercucuran merembes dari sarung ku, aku tersungkur tak berdaya, tubuh ku lebam. perih dan nyeri seluruh tubuh ini. Ingin rasa nya aku menutup mata. Tetapi hati ini menolak. "aku harus bertahan!" kata hati ku
“buka saja pak sarung nya! biar tahu siapa yang berani maling di masjid !”
“wong edan! Duit mesjid wani-wani ne meh di maling, yo, rasakno gebuk ku iki!” sambil melempar kayu tepat di mata ku. Darah mengucur deras
“baik bapak-bapak, ibu-ibu, saya akan buka sarung maling ini! lalu menyerahkan nya kepada pihak yang berwajib!”
Sarung ku terbuka, entah seperti apa bentuk wajah ku kini. Hanya sakit yang sangat, yang sanggup kurasakan . Aku tak sanggup lagi melihat. Semua terlihat Remang-remang. Mungkin karena kayu yang mengenai telah melukai indra ini. ingin ku raba, tapi tangan ini berat untuk di gerak kan. aku mencoba ikhlas menanggung sakit mata ku yang kurasakan sedikit menjorok ke dalam, darah masih terus menetes tanpa berhenti.
Sayup-sayup ku dengar suara mereka. Mungkin terkejut bahwa aku lah pencuri nya. ku coba menggetarkan pita suara ini. Tapi sulit. Hanya mulut yang menganga tanpa suara. Mata ku semakin berat. Nafas ku terasa sesak. Hanya suara hati yang sanggup berkata,
“aku bukan pencuri. aku bukan maling. Aku hanya ingin menemukan kedamaian hidup dengan meramaikan masjid,seperti yang ustadz katakan di kothbah jumat kemarin. Hanya itu...”
Ku rasakan angin memeluk ku erat, dedaunan melambai bak bertemu sahabat yang sudah lama pergi. Aku merasakan damai, damai yang tak pernah ku rasakan sebelum nya.
Perlahan, suara-suara itu berangsur menghilang,
dan digantikan oleh sunyi....
10 Previous News in Motivasi
- Gadis Amerika itu Bersyahadah di Dalam Bis Kota
- Sidungu yagn pura-pura bodoh
- Kesalahan Orang Tua Saat Mendisiplinkan Anak
- Anak Yang Luarbiasa
- Inilah Kepanjangan 7 Hari dalam Seminggu (Tips menghadapi hari2)
- Rahasia Usir Lapar di Malam Hari
- Cara Membuat Gigi Yang Kuning Menjadi Putih Berseri
- Daftar Kode - kode bank di Indonesia
- mengatasi insomnia - tidak bisa tidur malam
- Mengenal Stres Anak dan Bantuan Mengatasinya
10 Next News in Motivasi
- Polisi yang Menilang Sahabatnya
- Memaafkan Diri Sendiri!
- Sebuah Cerita yang Bagus &Menyentuh se X !!!
- Tahun Ajaran Baru, Perekrutan Baru, Jundi-jundi Baru, Semangat Baru…
- Perubahan Itu Berawal dari Bawah
- Jangan Benci Aku, Mama......
- Riset: Orang Culun di SMA Biasanya Sukses
Comment for PARANOID DENGAN MASJID
Untuk Mengisi Komentar Silahkan Login terlebih dahulu.


